Pemerintah militer Myanmar tidak lagi mengizinkan pria usia wajib militer untuk bepergian ke luar negeri untuk bekerja.
Hal ini disebutkan beberapa minggu setelah perintah wajib militer membuat banyak orang mencoba melarikan diri.
Pada hari Kamis, pihak berwenang mengatakan bahwa mereka akan menangguhkan semua permohonan izin kerja ke luar negeri.
Larangan itu ditujukan kepada seluruh laki-laki dari Myanmar.
Terdapat diaspora besar warga Myanmar yang bekerja di negara-negara lain di Asia dan sebelumnya warga setempat telah diizinkan untuk pergi mencari pekerjaan di luar negeri.
Namun, pembatasan ini muncul ketika junta militer menghadapi peningkatan oposisi dalam perang saudara yang sedang berlangsung di negara tersebut.
Junta telah memberlakukan perintah wajib militer pada bulan Februari, setelah berbulan-bulan mengalami kekalahan.
Hampir 100.000 orang mengajukan izin kerja dalam tiga bulan setelahnya.
Dan sebagai bagian izin tersebut muncul dari eksodus oleh orang-orang yang melarikan diri.
Pria berusia 18 hingga 35 tahun dan wanita berusia 18 hingga 27 tahun diwajibkan untuk mengikuti wajib militer.
Tindakan keras terhadap pekerjaan di luar negeri saat ini dipandang sebagai pukulan besar lainnya.
Banyak orang Myanmar yang pergi bekerja di negara-negara seperti Thailand, Malaysia, Singapura, Korea Selatan dan juga Uni Emirat Arab.
Seorang pria berusia 32 tahun yang sedang bersiap-siap untuk meninggalkan negara itu menuju Jepang mengatakan bahwa dia sangat terpukul.
Dia mengatakan kepada BBC Myanmar: “[Semua orang] telah kehilangan harapan untuk masa depan.”
“Tidak ada peluang kerja di dalam negeri dan sekarang mereka juga melarang kami untuk meninggalkan negara ini.”
“Apakah kami tidak boleh melakukan apapun?” katanya.
Ko Phyo, seorang pria berusia 28 tahun dari Kotapraja Lewey di ibukota Naypyidaw mengatakan kepada bahwa instruksi dewan militer membuat para pemuda di negara itu tidak memiliki prospek kerja sama sekali.
Berdasarkan laporan, terdapat bagaimana puluhan ribu orang muda Myanmar telah melarikan diri dari negara itu.
Pelarian itu muncul sejak dekrit Februari, dengan banyak yang mencari bantuan di kota perbatasan Thailand, Mae Sot.
Sebagian besar pendatang baru-baru ini adalah para pemuda yang menghindari wajib militer.
Banyak hal terjadi sejak militer menggulingkan pemerintahan Aung San Suu Kyi yang terpilih secara demokratis dalam kudeta tahun 2021.
Junta militer Myanmar menghadapi pemberontakan dari beberapa kelompok yang telah meningkat menjadi perang saudara.
Perang tersebut sejauh ini telah menewaskan ribuan orang dan membuat setidaknya 2,6 juta orang mengungsi menurut PBB.





